Lelaki Seperkasa Ali, Selemah Itu di Hadapan Cinta
Siapa yang tak mengenal Sayyidina Ali? Singa Allah yang gagah, khalifah keempat umat ini, lelaki yang namanya bergetar di medan laga. Di Perang Battle of Khaybar ia mencabut pintu benteng dengan tangannya sendiri—sesuatu yang tak sanggup dibayangkan akal biasa. Ia mengangkat batu-batu besar dalam parit khandaq, kuat dalam Padang pasir sampai ke Yaman, dan menebas lawan dengan Zulfiqar bermata dua, hingga musuh-musuh tersungkur di hadapannya. Puluhan pertempuran telah ia lewati, tak terhitung duel yang ia menangkan.
Namun, Ramadhan tahun kesebelas hijriah menghadirkan pertempuran yang tak pernah ia siapkan. Pada 3 Ramadhan 11 H, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri tercinta Rasulullah, mengembuskan napas terakhirnya. Enam bulan setelah wafatnya sang ayahanda, Muhammad ﷺ, ia menyusul keharibaan Ilahi—meninggalkan dunia yang telah terasa sepi baginya sejak kepergian sang Nabi. Bukankah pernah Rasulullah berbisik kepadanya, “Tidakkah engkau ridha menjadi penghulu wanita di surga?” Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Kathir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, kalimat itu seakan menjadi isyarat akan pertemuan yang segera tiba.
Di sisi pembaringan itu, Ali bukan lagi panglima perang. Ia hanyalah seorang suami yang kehilangan separuh jiwanya. “Zahra… aku Ali… berbicaralah walau sepatah kata… aku rapuh bila kau pergi,” lirihnya di sela isak yang tertahan. Seperti sekuntum bunga yang turun dari surga lalu kembali ke asalnya, Fatimah pergi meninggalkan harum yang tak akan pernah hilang dari ingatan.
Ketika Ali menurunkan jasad istrinya ke liang lahat, tangisnya pecah—bukan tangis seorang penakut, melainkan tangis seorang pecinta. Putranya, Sayyidina Hasan, terheran melihat ayahnya tersedu sedemikian rupa. “Wahai Ayah, apa yang membuatmu menangis seperti ini?” tanya sang putra. Dengan suara yang bergetar, Ali menjawab, “Wahai Hasan, aku teringat pesan kakekmu. Beliau bersabda bahwa ketika Fatimah tiada, akulah yang pertama menerima jasadnya di liang lahat. Demi Allah, aku melihat tangan Rasulullah menerima ibumu. Aku melihat beliau menciumi wajahnya.”
Kisah ini menyingkap satu hakikat yang sering kita lupakan: manusia, sekuat apa pun ia terlihat, tetaplah makhluk yang memiliki batas. Pedang dapat menebas baja, tetapi tak mampu menahan perpisahan. Lengan yang sanggup mengangkat gerbang benteng tak kuasa mengangkat beban kehilangan. Hati yang paling berani pun akan gemetar ketika cinta disentuh takdir perpisahan—terlebih cinta yang tumbuh karena Allah, suci dan abadi. Pada titik itu, langkah terasa berat, dada sesak oleh rindu, dan dunia menyempit oleh sepi. Sebab tiada duka yang lebih sunyi selain berpisah dengan jiwa yang kita cintai karena Allah; dan tiada cinta yang lebih mulia selain cinta yang mengantarkan dua hati kembali bertemu di sisi-Nya.
Tarim.
1 hari sebelum Ramadhan 1447 H.
@teungkusyarifattari
Tidak ada komentar
Posting Komentar